Latest News

Penyebab Dermatitis pada Bayi dan Gejala yang Paling Umum Muncul

Dermatitis adalah salah satu masalah kulit paling umum yang terjadi pada bayi. Istilah dermatitis menunjukkan kondisi kulit yang tampak sangat kering dengan ruam kemerahan dan gatal karena peradangan. Tidak jarang gejala dermatitis menyebabkan rasa sakit pada kulit bayi yang membuat sedikit lebih tidak nyaman. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan orangtua.

Dermatitis itu sendiri memiliki banyak jenis, masing-masing dapat menunjukkan gejala khas. Nah, berbagai jenis dermatitis juga cara berbeda untuk mengatasinya. Karena itu, penting bagi Anda untuk membedakan setiap jenis dermatitis yang biasa dialami bayi.

Apa yang menyebabkan dermatitis pada bayi?

Hingga saat ini mekanisme yang menyebabkan radang kulit belum dapat dijelaskan secara menyeluruh.

Studi tentang penyebab dermatitis sejauh ini menunjukkan bahwa peradangan kulit dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi yang berbeda. Menurut National Eczema Association, berikut adalah beberapa hal yang dapat memicu dermatitis pada bayi:

  • Riwayat genetik atau keluarga dermatitis herediter.
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh.
  • Keturunan keluarga dengan alergi, asma, dan rinitis alergi.
  • Faktor lingkungan seperti konsumsi makanan tertentu, paparan iritan dan alergen.

Dermatitis yang terjadi pada anak-anak hanya dapat dipengaruhi oleh satu atau beberapa kombinasi faktor-faktor di atas.

Selain faktor internal, beberapa faktor risiko dari lingkungan eksternal juga dapat memicu dan bahkan memperburuk kondisi dermatitis. Faktor-faktor pemicu ini meliputi:

  • Iritasi kulit
  • Iritan seperti produk kimia yang mengandung wewangian
  • Infeksi penyakit
  • Perubahan cuaca ekstrem
  • Alergen seperti bulu binatang, serbuk sari, dan debu

Gejala dermatitis umum pada bayi

Gejala-gejala dermatitis biasanya muncul dalam 6 bulan pertama usia bayi.

Bayi dengan dermatitis dapat mengalami gejala yang lebih spesifik selain kemerahan, kulit kering, dan gatal-gatal.

Gejala dermatitis yang lebih khas biasanya muncul terkait dengan jenis spesifik yang dialami bayi. Ada banyak jenis dermatitis, yaitu dermatitis atopik, dermatitis kontak, dan dermatitis seboroik. Namun, yang paling umum pada bayi adalah dermatitis atopik dan dermatitis seboroik.

Berikut adalah gejala yang dapat disebabkan oleh dua jenis ini:

1. Dermatitis atopik (eksim)

Dermatitis atopik atau eksim adalah bentuk dermatitis yang paling umum. Eksim pada bayi biasanya berkembang dalam tiga fase berbeda.

Pada bayi di bawah usia 6 bulan, gejala dermatitis lebih sering ditemukan pada wajah, pipi, dagu, dahi, dan daerah kulit kepala. Karakteristik eksim muncul dalam bentuk:

  • Bintik kemerahan di kulit.
  • Kulit menjadi kering.
  • Kulit terkelupas.

Seiring waktu, gejalanya dapat menyebar ke siku dan lutut dengan bintik-bintik yang membentuk ruam kemerahan. Peradangan juga menyebabkan kulit terlihat lebih kering dan bersisik.

Pada bayi berusia 1 tahun ke atas, gejala dapat muncul pada lipatan kulit seperti pergelangan tangan, kaki, dan ruam pada area popok. Tidak jarang, gejalanya juga muncul di sekitar kelopak mata dan mulut.

Gejala dermatitis atopik pada bayi bisa hilang untuk waktu yang lama dan berulang. Ini sangat dipengaruhi oleh faktor pemicu. Jika bayi terpapar iritasi dan menjadi teriritasi, gejala dapat muncul kembali.

2. Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik pada bayi memiliki gejala karakteristik sisik kulit putih kekuningan yang melekat pada kulit kepala. Masalah kulit pada bayi juga dikenal sebagai Cradle cap.

Sisik kulit yang muncul memiliki penampilan yang mirip dengan ketombe dan dapat menyebabkan gatal yang mengganggu.

Selain kulit kepala, gejala dermatitis seboroik juga dapat muncul pada beberapa bagian tubuh lainnya seperti dahi, alis, leher, dada, dan selangkangan bayi.

Kondisi kulit bersisik dipicu oleh peradangan dan menyebabkan produksi minyak yang berlebihan pada kulit kepala bayi. Selain itu, infeksi jamur Malassezia atau Pityrosporum juga dapat memicu peradangan.

Jamur ini biasanya hidup di kulit manusia. Namun, kulit beberapa bayi bereaksi berlebihan sehingga mudah terinfeksi. Sistem kekebalan yang masih dalam tahap pengembangan juga membuat bayi lebih rentan terhadap infeksi.

Cara mengatasi dermatitis pada bayi

Obat untuk dermatitis pada bayi

Pada kasus ringan, gejala dermatitis pada bayi memang bisa mereda sendiri. Namun, rasa gatal dan terbakar akibat peradangan kulit dapat membuat bayi tidak nyaman.

Memang tidak ada pengobatan untuk dermatitis yang dapat menyembuhkannya secara menyeluruh, tetapi sejumlah langkah perawatan kulit dapat diikuti untuk mengendalikan gejala. Apalagi jika gejalanya tidak hilang selama berbulan-bulan.

1. Gunakan produk pembersih kulit yang aman

Dalam merawat kulit bayi yang terkena dermatitis, hindari menggunakan pembersih kosmetik karena lebih rentan terhadap iritasi.

Sampo dan sabun untuk bayi dengan dermatitis tidak boleh mengandung deterjen dan pewangi kimia sehingga cenderung ringan dan tidak terasa sakit pada kulit.

Produk yang berasal dari bahan tradisional yang digunakan sebagai obat dermatitis alami juga bisa menjadi pilihan. Namun, National Eczema Society tidak lagi merekomendasikan penggunaan minyak zaitun karena dapat memperburuk kerusakan pada kulit bayi.

Juga gunakan minyak atau krim pelembab khusus untuk bayi dengan dermatitis secara rutin setidaknya 2 kali sehari, yaitu setelah mandi dan ketika anak Anda tertidur.

2. Memandikan bayi dengan teknik khusus

Mandi sangat penting untuk menjaga kulit bayi Anda bersih dan menghilangkan kotoran dan iritasi yang dapat memicu peradangan kulit.

Selain menggunakan produk yang aman, Anda juga harus memandikan bayi menggunakan air hangat yang ditambah dengan minyak emolien (pelembab non-kosmetik) untuk menjaga kulit tetap lembab.

Selama membersihkan kulit yang terkena, jangan menggosok terlalu kencang. Anda dapat menggunakan sikat bulu halus sehingga tidak menyebabkan iritasi.

Jangan juga mencoba menggaruk atau menghilangkan sisik kulit dengan tangan karena ini dapat meningkatkan risiko infeksi kulit.

Untuk bayi yang terkena dermatitis seboroik, aplikasikan minyak bayi atau petroleum jelly perlahan di kulit kepala sebelum setidaknya satu jam sebelum mandi.

Batasi waktu mandi bayi Anda sekitar 5-10 menit. Tak lama setelah kering oleskan pelembab khusus untuk dermatitis kulit.

3. Perawatan medis

Segera konsultasikan anak Anda ke dokter kulit jika Anda mengalami gejala dermatitis yang lebih parah. Konsultasikan dengan dokter jika gejalanya memburuk dari hari ke hari.

Jika diperlukan, dokter Anda biasanya akan meresepkan krim antijamur, krim kortikosteroid dengan potensi steroid ringan, dan sampo untuk dermatitis yang mengandung ketoconazole, selenium sulfide, belangkin, atau seng pyrithione.

4. Hindari pemicu dermatitis

Dermatitis pada bayi dapat membaik atau memburuk dari waktu ke waktu dan ini sangat berpengaruh dengan pemicu. Pemicu eksim pada bayi bisa berupa keringat, air liur, bulu hewan, atau bahan kimia yang ada di beberapa produk.

Jika anak Anda sering terkena pemicu, dermatitis pada bayi akan lebih parah gejalanya. Amati juga berbagai hal di sekitar bayi yang bisa Anda curigai sebagai pemicu dermatitis. Setelah itu, pastikan bayi menghindari pemicu ini.

Posting Penyebab Dermatitis pada Bayi dan Gejala Paling Umum Muncul pertama kali di Hello Sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top