Kerusakan

COVID-19 Picu Kerusakan Saraf dan Otak Jangka Panjang

Para ilmuwan memperingatkan bahwa pasien COVID-19 dengan gejala ringan dapat mengalami kerusakan otak serius yang mungkin memiliki konsekuensi jangka panjang. Peringatan ini disampaikan setelah penelitian terbaru menunjukkan hal itu SARS-CoV-2 Penyebab COVID-19 dapat menyebabkan komplikasi neurologis yang parah, termasuk radang otak, psikosis, dan delirium.

COVID-19 dapat menyebabkan kerusakan otak

Efek kerusakan otak jangka panjang pasien Covid-19

Gejala dan efek infeksi virus corona penyebab COVID-19 masih terus dipelajari. Selama enam bulan terakhir, para ilmuwan telah menemukan serangkaian dampak sementara dan jangka panjang yang berpotensi memengaruhi pasien COVID-19.

Baru-baru ini, peneliti dari University College London (UCL) menerbitkan hasil belajar pada 43 pasien COVID-19 yang mengalami komplikasi otak serius dan kerusakan saraf. Dalam detail laporannya, peneliti mengetahui bahwa setidaknya ada 4 efek virus pada saraf otak.

Pertama, beberapa pasien COVID-19 mengalami keadaan bingung yang dikenal sebagai delirium atau ensefalopati. Kondisi delirium biasanya dikaitkan dengan penurunan kognitif, masalah memori, dan perasaan bingung dan disorientasi.

Pada sebagian besar kasus COVID-19, kelainan saraf ini hanya bersifat sementara. Meski begitu, para ahli saraf mempertanyakan mengapa kondisi ini terjadi pada pasien COVID-19.

Dalam satu studi kasus, delirium terjadi pada pasien COVID-19 berusia 55 tahun yang tidak memiliki riwayat kejiwaan sebelumnya. Pasien ini keluar dari rumah sakit setelah tiga hari menunjukkan gejala COVID-19 termasuk demam, batuk, dan nyeri otot.

Setelah kembali ke rumah, pasien bingung dan mengalami disorientasi, halusinasi visual dan pendengaran.

KeduaSalah satu temuan yang mengkhawatirkan adalah ditemukannya beberapa kasus pasien radang susunan saraf pusat berupa ADEM (ensefalomielitis diseminata akut).

ADEM adalah kondisi yang cukup langka. Namun, sejak wabah COVID-19 menyebar luas, semakin banyak kasus peradangan pada sistem saraf pusat yang bermunculan. Pada penelitian ini saja terdapat 9 kasus pasien ADEM.

KetigaKondisi stroke merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada pasien COVID-19 dalam penelitian ini. Separuh dari pasien dalam penelitian ini memiliki faktor risiko stroke, separuh lainnya tidak. Mereka hanya memiliki infeksi COVID-19 sebagai faktor risiko komplikasi sistem saraf tersebut. Terakhir adalah potensi kerusakan otak lainnya.

Apakah kerusakan otak ini memiliki efek jangka panjang?

Penderita Covid-19 mengalami kerusakan saraf otak

Hingga saat ini, setidaknya ada 300 penelitian di seluruh dunia yang menemukan kaitan antara COVID-19 dan gangguan neurologis. Ini termasuk gejala ringan seperti sakit kepala, kehilangan penciuman, dan kesemutan.

Semua komplikasi dampak COVID-19 pada otak tersebut di atas berpotensi menimbulkan kerusakan jangka panjang.

“Yang jelas, jika seorang pasien pernah mengalami stroke, mereka mungkin memiliki sisa kelemahan dari stroke tersebut. Penderita inflamasi dapat mengalami defisiensi residual,” ujar Hadi Manji, salah satu penulis studi tersebut.

Para peneliti mengatakan penelitian lebih lanjut dalam skala yang lebih besar diperlukan untuk mengetahui lebih jelas dan lebih akurat hubungan antara COVID-19 dan saraf otak.

Para peneliti mengatakan efek jangka panjang dari infeksi virus pada otak manusia terjadi setelah pandemi influenza 1918.

"Kerusakan otak yang terkait dengan pandemi mungkin mirip dengan wabah ensefalitis lethargica & # 39;penyakit tidur & # 39; pada 1920-an dan 1930-an setelah pandemi Flu Spanyol 1918, ”Michael Zandi, seperti dikutip Reuters, Rabu (8/7). Ensefalitis dan penyakit tidur telah lama dikaitkan dengan epidemi influenza, meski hingga saat ini hubungan langsung keduanya sulit dibuktikan.

Selain hubungannya dengan otak dan saraf, hingga saat ini para ilmuwan menemukan kaitan antara COVID-19 dengan penyakit lain seperti ginjal, hati, jantung, dan hampir semua organ.

Postingan COVID-19 Memicu Saraf Jangka Panjang dan Kerusakan Otak muncul pertama kali di Hello Sehat.

5 Tips Menghindari Masalah atau Kerusakan pada Pemakaian Kondom

Pasangan yang sudah menikah harus tahu bagaimana mencegah kondom bocor atau rusak. Kondom adalah alat kontrasepsi yang efektif untuk pencegahan kehamilan dan infeksi menular seksual. Namun, penggunaan dan penyimpanan kondom yang tidak tepat dapat menyebabkan risiko kondom rusak.

Agar kondom berfungsi secara optimal sebagai alat kontrasepsi tanpa kerusakan dan masalah, lihat tips berikut.

Tidak ada lagi kecemasan, tips ini mencegah kerusakan atau kebocoran kondom

1. Simpan kondom di tempat yang tepat

Temperatur, pencahayaan, termasuk sinar matahari mempengaruhi ketahanan kondom itu sendiri. Kondom termasuk pelumasan dalam kemasan untuk mencegah pengeringan kondom.

Kondom dapat mengering saat terpapar sinar matahari, pencahayaan langsung, atau disimpan dalam suhu yang hangat. Hindari pula penyimpanan di kamar mandi karena suhunya bisa berubah. Kondom dapat disimpan dalam suhu ruangan untuk mencegah bocornya kondom, misalnya di laci kamar, lemari, atau di tempat yang teduh (tidak terpapar sinar matahari atau pencahayaan langsung).

Kondom juga dapat disimpan di pemegang kondom atau kantong dibuat khusus agar kondom tidak rusak saat Anda bepergian.

2. Lihat tanggal kedaluwarsa

Sebelum membeli dan menggunakan kondom, periksa kembali tanggal kedaluwarsa. Kondom memiliki waktu terbaik untuk digunakan sebelum berakhir. Namun, dari waktu ke waktu fungsi kondom akan melemah ketika melebihi batas waktu.

Untuk mencegah kebocoran atau masalah dengan kondom, baca kembali batas periode penggunaan. Jika waktu telah berlalu, jangan gunakan itu.

3. Cegah agar kondom tidak bocor dengan memastikan ukurannya

Anda dapat memeriksa ukuran kondom yang tepat untuk membuatnya lebih nyaman digunakan. Karena setiap penis memiliki ukuran yang berbeda saat ereksi, kondom juga menawarkan berbagai ukuran.

Karena itu, pastikan ukuran kondom yang Anda kenakan benar. Menggunakan kondom terlepas dari ukurannya, dapat menyebabkan kondom robek dan rusak. Sehingga tidak lagi berfungsi optimal saat digunakan.

Ada berbagai kondom yang menyesuaikan ukuran penis. Ukuran kondom yang tersedia dapat dilihat sebagai berikut.

  • Ukuran tutup pas, dengan lebar 49 mm
  • Ukuran nyaman, dengan lebar lebih atau kurang 52,5 mm
  • Ukuran besar, dengan lebar 56 mm

4. Gunakan kondom sebelum penetrasi

Tidak sedikit pasangan yang mengenakan kondom tepat sebelum klimaks dan bukan dari awal sebelum penetrasi. Penggunaan kondom seperti ini dapat mengurangi fungsinya sebagai kontrasepsi dan perlindungan diri dari penyakit menular seksual.

Alangkah baiknya jika kondom digunakan saat ereksi dan sebelum penetrasi terjadi. Dengan begitu Anda dan pasangan bisa merasakan manfaat kondom secara optimal, dan mencegah kondom bocor atau rusak.

5. Pakailah kondom dengan benar

Anda harus mendaftar cara yang tepat untuk menggunakan kondom. Saat memasang kondom, selalu ingat untuk memberi jeda di akhir sebagai tempat menyimpan semen cair. Jangan lupa membuang udara yang terjebak di dalam kondom sehingga tidak ada ruang bagi semen untuk keluar melalui celah udara.

Setelah seks selesai, lepaskan penis dari vagina dengan hati-hati sehingga tidak ada air mani yang tumpah. Kemudian tarik kondom, ikat, dan buang di tempatnya. Mengenakan kondom dengan tepat dapat meminimalkan risiko bocornya kondom.

Tidak hanya itu, pastikan juga kuku dan pasangan Anda dipotong pendek. Karena kondom juga bisa rusak ketika kuku tergores saat mengenakan atau ketika handjob di sela-sela penetrasi.

Sekarang, Anda sudah tahu tips mencegah kondom agar tidak rusak dan bocor. Seks dapat terjadi dengan aman dan asyik dengan melakukan tips di atas. Bagikan artikel ini dengan pasangan Anda untuk mengetahui cara menggunakan dan menyimpan kondom dengan benar.

Posting 5 Tips untuk Menghindari Masalah atau Kerusakan Penggunaan Kondom muncul pertama kali di Hello Sehat.

Scroll to top