Ragam

Ragam Penyebab Eksim Beserta Faktor Pemicu Kekambuhannya

Eksim adalah penyakit kulit yang ditandai dengan kulit bersisik yang gatal, meradang, dan kering. Penyakit kulit ini sering ditemukan, dengan jumlah penderitanya mencapai 1-3% dari populasi di seluruh dunia. Meski umum terjadi, masih banyak penderita yang belum mengetahui apa penyebab eksim.

Selain dari penyebabnya, penderita eksim juga perlu memahami faktor apa saja yang menjadi pemicu kambuhnya gejala. Pasalnya, eksim kerap kambuh dengan gejala parah yang bahkan bisa mengganggu kehidupan sehari-hari. Dengan memahami penyebab dan pemicunya, Anda bisa mengurangi risiko kambuhnya penyakit ini.

Apa penyebab eksim pada kulit?

Eksim ditandai dengan stadium penyakit

Eksim adalah istilah yang mengacu pada dermatitis atopik. Penyakit ini disebut juga dry eczema karena biasanya masalah kulit menjadi sangat kering dan mengelupas.

Sampai saat ini penyebab pasti eksim masih terus diteliti. Melansir laman National Eczema Association, sejauh ini penyebab eksim kering diduga dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan sistem kekebalan tubuh.

Inilah sebabnya mengapa eksim biasanya muncul dalam 6 bulan pertama kehidupan dan dapat berlanjut hingga dewasa. Beberapa gejala eksim pada anak-anak bisa membaik bahkan hilang sama sekali, namun ada pula yang justru semakin memburuk seiring berjalannya waktu.

Faktor-faktor berikut ini terkait dengan penyebab eksim.

1. Mutasi genetik

Penelitian dari University of Dundee di Inggris menunjukkan bahwa beberapa penderita eksim mengalami mutasi pada gen yang menghasilkan filaggrin. Filaggrin adalah sejenis protein yang membantu menjaga pelindung alami di lapisan atas kulit.

Mutasi pada dasarnya umum terjadi pada gen. Namun, mutasi pada gen penghasil filaggrin mencegah tubuh memproduksi cukup filaggrin. Akibatnya skin barrier menjadi lebih lemah dari yang seharusnya.

Air juga lebih mudah menguap sehingga kulit kehilangan kelembapan alaminya. Lapisan pelindung yang lemah juga memudahkan kuman masuk ke dalam kulit. Inilah sebabnya kulit penderita dermatitis sangat kering dan mudah terkena infeksi.

2. Sistem kekebalan yang sensitif

Sistem kekebalan yang terlalu aktif diduga memiliki peran tertentu sebagai penyebab eksim. Hal ini terlihat dari respon imun penderita eksim yang umumnya sangat sensitif.

Sel kekebalan mereka cenderung bereaksi berlebihan saat mereka menemukan zat yang menyebabkan alergi atau iritasi, seperti serbuk sari, bahan kimia, atau bahkan bahan dalam makanan. Padahal, zat tersebut sebenarnya tidak membahayakan tubuh.

Saat tubuh Anda terpapar zat ini, sistem imun akan segera bereaksi dengan melepaskan antibodi, histamin, dan reaksi inflamasi. Peradangan menyebabkan ruam kemerahan pada kulit yang dapat menyebabkan kerusakan seiring waktu.

Meski begitu, fungsi sistem imun biasanya membaik seiring bertambahnya usia sehingga ketahanan terhadap eksim juga meningkat. Inilah sebabnya mengapa banyak anak yang menderita eksim mulai mengalami gejala yang lebih sedikit begitu mereka mencapai usia remaja hingga dewasa.

3. Riwayat penyakit dari orang tua

Eksim lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa mengalaminya. Sekitar 50% orang dewasa yang menderita eksim biasanya mengalaminya di masa kanak-kanak.

Meski bukan penyebab langsung, riwayat keluarga memang berperan penting dalam munculnya eksim. Pasalnya, eksim merupakan penyakit kulit yang bisa diturunkan dalam silsilah keluarga.

Selain akibat mutasi genetik pada poin pertama, pewarisan eksim pada anak juga bisa dipengaruhi oleh gangguan kesehatan tertentu yang juga diturunkan. Misalnya, risiko Anda terkena eksim lebih besar jika Anda memiliki riwayat keluarga:

  • eksim,
  • alergi,
  • asma,
  • rinitis alergi, atau
  • jenis dermatitis lainnya.

Jika salah satu orang tua memiliki salah satu kondisi di atas, maka anak tersebut berpeluang 50% untuk mengalami setidaknya salah satu kondisi tersebut. Kesempatan ini akan bertambah jika kedua orang tua memiliki salah satu syarat di atas.

Namun, mekanisme penerusan gen penyebab eksim dari orang tua ke anak masih belum pasti. Para ahli masih perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi gen apa saja yang terlibat di dalamnya.

Apakah eksim menular?

Ciri-ciri dan eksim pada orang dewasa

Tingkat keparahan gejala eksim seringkali menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan penyakit ini menular. Namun, anggapan tersebut sebenarnya salah. Dermatitis, termasuk eksim, bukanlah penyakit kulit yang menular.

Penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur dapat ditularkan jika Anda terinfeksi kuman yang sama dari seseorang yang sedang sakit. Sedangkan eksim merupakan penyakit yang disebabkan oleh faktor yang berkaitan dengan genetika dan sistem kekebalan tubuh.

Satu-satunya penularan yang mungkin terjadi adalah ketika eksim terinfeksi. Anda bisa saja terinfeksi kuman yang sama, tapi penyakit yang muncul bukanlah eksim.

Faktor penyebab eksim kambuh

Disidrosis adalah eksim pada tangan dan kaki

Penyebab eksim masih belum diketahui secara pasti. Namun, munculnya dermatitis jenis ini berkaitan dengan faktor genetik, riwayat penyakit keluarga, dan fungsi sistem imun setiap orang.

Di sisi lain, eksim sendiri tergolong penyakit kulit kronis yang sifatnya berulang. Gejala eksim dapat kambuh dari waktu ke waktu saat Anda terpapar pemicu lingkungan atau hal lain yang dapat memperburuk gejala.

Faktor risiko kekambuhan eksim dapat bervariasi dari orang ke orang. Berikut pemicu penyebab eksim yang perlu Anda kenali.

1. Kulit kering

Kondisi kulit kering membuat Anda lebih rentan mengalami iritasi, yang dapat memperburuk eksim. Jadi, upayakan untuk menjaga kelembapan kulit dengan rutin mengoleskan pelembab kulit, terutama pada area yang rawan eksim.

Selain menjaga kelembapan kulit, Anda juga perlu menjaga kebersihannya untuk mengurangi kemungkinan masuknya kuman. Namun, perlu diingat bahwa kondisi kulit yang terlalu higienis juga dapat menyebabkan eksim semakin parah.

2. Makanan

Makanan sebenarnya bukan penyebab utama dermatitis atopik. Namun, beberapa makanan justru dapat memperburuk gejala eksim yang berulang, terutama jika Anda memiliki riwayat alergi makanan.

Dijelaskan oleh American Academy of Dermatology, anak yang mengalami eksim biasanya memiliki alergi terhadap makanan yang mengandung susu, kerang, dan kacang-kacangan terlebih dahulu. Makan makanan ini bisa memperburuk gejala eksim.

Namun, anak tetap membutuhkan asupan gizi yang cukup selama masa pertumbuhannya. Jadi sebelum Anda berhenti memberikan makanan pemicu alergi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter tentang makanan pengganti.

3. Bahan kimia dalam produk rumah tangga dan perawatan pribadi

Salah satu penyebab paling umum dari kekambuhan eksim adalah bahan kimia yang mengiritasi kulit. Banyak bahan kimia yang ditemukan dalam produk rumah tangga dan perawatan pribadi, seperti sabun, deterjen, dan parfum yang keras pada kulit.

Jenis kain sintetis tertentu atau bahan yang keras dan gatal seperti wol juga dapat mengiritasi kulit dan memperburuk eksim. Akibatnya kulit lebih mudah menjadi kering, mengalami iritasi, dan terasa gatal.

4. Berkeringat atau kepanasan

hidung berkeringat

Peningkatan suhu tubuh dan keringat juga merupakan pemicu paling umum untuk eksim. Cuaca sejuk paling baik untuk penderita eksim. Sebaliknya, kondisi hangat dan lembab dapat menjadi sarang infeksi karena bakteri hidup pada suhu yang lebih tinggi.

5. Perubahan suhu yang tiba-tiba

Pindah dari gedung yang dingin ke area luar ruangan yang panas dapat menyebabkan tubuh berkeringat dan memanas, menyebabkan eksim kambuh. Penurunan kelembapan yang tiba-tiba juga bisa mengeringkan kulit yang menjadi pemicu eksim.

6. Paparan alergen dan iritan

Iritasi kulit akibat eksim juga bisa bertambah parah akibat terpapar alergen atau iritan seperti debu, bulu binatang, dan serbuk sari. Kondisi ini bisa lebih parah pada penderita eksim yang memiliki reaksi sistem kekebalan yang sensitif.

Beberapa kondisi lain yang membuat eksim pantang adalah:

  • paparan air terlalu lama,
  • mandi terlalu lama,
  • mandi dengan air yang terlalu panas
  • suhu ruangan terlalu dingin, dan
  • cuacanya terlalu panas dan kering.

Peneliti belum sepenuhnya memahami apa yang menyebabkan eksim. Faktor penyebab diduga kuat berasal dari kondisi genetik, riwayat keluarga, dan fungsi sistem kekebalan.

Meskipun penyebabnya tidak diketahui, Anda tetap dapat mengontrol gejala eksim dengan mengidentifikasi pemicunya. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan kulit dan sebisa mungkin menghindari berbagai pemicu kambuhnya gejala di kemudian hari.

Postingan Ragam Penyebab Eksim dan Faktor Pemicunya Kambuh muncul pertama kali di Hello Sehat.

Ragam Jenis Pengobatan dan Obat untuk Mengatasi Leukemia

Leukemia adalah jenis kanker darah yang dimulai di sumsum tulang dan kemudian menyerang darah. Jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebar ke bagian tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, hati, limpa, otak, sumsum tulang belakang, atau testis. Lantas, bagaimana Anda menangani dan mengobati leukemia? Apa saja jenis pengobatan dan obat yang umumnya diberikan dokter untuk mengatasi leukemia?

Berbagai jenis obat dan obat untuk mengobati leukemia

Sel kanker leukemia dapat berkembang dengan sangat cepat dan lambat. Jenis leukemia yang berkembang secara perlahan, atau disebut leukemia kronis, pengobatan umumnya tidak diperlukan, apalagi jika penderita tidak memiliki gejala leukemia.

Namun, pemeriksaan rutin tetap harus dilakukan untuk meninjau perkembangan penyakit. Pengobatan baru akan diberikan bila penyakit sudah berkembang dan menimbulkan gejala pada penderitanya.

Namun, bagi penderita leukemia akut yang berkembang pesat dan mengalami gejala, diperlukan penanganan medis. Jenis pengobatan yang akan diberikan tergantung pada jenis leukemia yang Anda derita, stadium atau penyebaran sel kanker, usia Anda, kondisi kesehatan Anda secara keseluruhan, dan kemungkinan efek pengobatan.

Secara umum, ada lima cara atau jenis pengobatan untuk mengatasi leukemia, termasuk berbagai terapi hingga bentuk pengobatan medis lainnya. Berikut ini adalah jenis pengobatannya:

1. Kemoterapi

Kemoterapi untuk batuk darah

Kemoterapi adalah cara utama untuk mengobati dan mengobati leukemia. Terapi leukemia ini menggunakan obat-obatan yang diberikan dalam bentuk pil, melalui infus ke pembuluh darah vena atau kateter, atau suntikan di bawah kulit, untuk menghentikan pertumbuhan atau membunuh sel kanker.

Obat kemoterapi untuk leukemia umumnya diberikan dalam kombinasi. Obat dapat diberikan dalam beberapa siklus dan dapat bertahan selama enam bulan atau lebih, tergantung dari jenis obat dan proses pemulihan dari kemoterapi.

Pengobatan ini umumnya diberikan kepada penderita leukemia limfoblastik akut (ALL) dan leukemia myeloid akut (AML). Untuk penderita leukemia jenis lain, seperti leukemia limfositik kronis (CLL), leukemia myeloid kronis (CML), dan leukemia sel berbulu, kemoterapi juga bisa diberikan, terutama bagi mereka yang sudah berkembang atau mengalami gejala.

Dilansir dari Leukemia & Lymphoma Society, kemoterapi untuk leukemia ALL dan AML dilakukan dalam dua tahap, yaitu induksi dan pasca emisi. Induksi adalah fase awal pasien menjalani kemoterapi.

Terapi pada fase ini bertujuan untuk membunuh sebanyak mungkin sel kanker untuk mencapai remisi, yaitu bila tidak ada sel kanker yang tertinggal di dalam darah dan sumsum tulang dan pasien merasa lebih baik.

Setelah mencapai remisi, penderita leukemia jenis ini tetap perlu menjalani kemoterapi untuk mencegah kembalinya sel kanker. Fase ini juga dikenal sebagai pasca emisi. Pada fase pasca emisi, selain kemoterapi, pasien juga terkadang melakukan transplantasi sel induk sel induk.

2. Terapi radiasi atau radioterapi

Radioterapi atau terapi radiasi menggunakan sinar-X atau sinar berenergi tinggi untuk merusak sel leukemia dan menghentikan pertumbuhannya. Terapi radiasi ini biasanya dilakukan untuk mempersiapkan transplantasi sel induk atau sel induk.

Selama prosedur, Anda akan diminta untuk berbaring di atas meja. Kemudian, sebuah mesin bergerak di sekitar Anda, mengarahkan radiasi ke titik di mana sel-sel kanker berada atau di seluruh tubuh Anda.

Perawatan terapi radiasi biasanya diberikan untuk hampir semua jenis leukemia. Berikut penjelasannya:

  • Salah satu jenis ALL leukemia, radioterapi dapat diberikan untuk mencegah atau mengobati penyebaran sel kanker ke sistem saraf pusat, persiapan untuk transplantasi sel induk, dan menghilangkan rasa sakit akibat penyebaran sel leukemia ke tulang, terutama jika belum kemoterapi. membantu.
  • Suatu jenis leukemia AML, radioterapi biasanya diberikan untuk mempersiapkan transplantasi sel induk dan ketika leukemia telah menyebar ke luar sumsum tulang, termasuk ke tulang atau sistem saraf pusat.
  • Jenis leukemia CLL, radioterapi biasanya diberikan ketika sel-sel leukemia telah berkembang di sumsum tulang dan menyebabkan gejala seperti nyeri, pembesaran limpa yang mengecil jika kemoterapi tidak berhasil, atau pembesaran kelenjar getah bening yang menyusut di satu area tubuh.
  • Jenis leukemia CML, radioterapi biasanya diberikan ketika sel leukemia telah berkembang di sumsum tulang dan menyebabkan gejala seperti nyeri, sel kanker telah menyebar ke luar sumsum tulang, pembesaran limpa menyusut jika kemoterapi tidak berhasil, dan persiapan untuk transplantasi sel induk .

3. Imunoterapi

Imunoterapi atau terapi biologis adalah jenis pengobatan yang menggunakan obat-obatan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan leukemia. Jenis terapi biologis yang biasa digunakan untuk leukemia termasuk interferon, interleukin, dan terapi sel CAR-T.

Beberapa jenis leukemia yang biasanya menggunakan jenis pengobatan ini yaitu CML dan leukemia sel berbulu. Pada pasien CML, terapi biologis dengan interferon alfa umumnya diberikan sebagai terapi lini pertama, terutama bagi pasien yang tidak mampu mengatasi efek samping terapi target atau yang resisten terhadap obat terapi target.

Interferon juga diberikan kepada pasien leukemia sel berbulu, apalagi bila tidak bisa menjalani kemoterapi atau kemoterapi sudah tidak berpengaruh lagi. Bahkan wanita hamil atau mereka dengan tingkat sel darah neutrofil yang sangat rendah tidak dianjurkan untuk menjalani terapi biologis ini.

Terlepas dari jenis leukemia ini, SEMUA pasien juga dapat menerima jenis perawatan ini. Bicarakan dengan dokter Anda tentang jenis obat dan pengobatan yang tepat untuk Anda.

4. Terapi bertarget

Obat ARV retroviral untuk alat bantu HIV

Terapi target adalah cara mengobati leukemia dengan menggunakan obat-obatan yang fokus dan khusus menyerang sel kanker. Terapi yang ditargetkan ini bekerja dengan cara memblokir kemampuan sel leukemia untuk berkembang biak dan membelah, memutus suplai darah yang dibutuhkan sel kanker, atau langsung membunuh sel kanker.

Meskipun terlihat sama dengan kemoterapi, terapi yang ditargetkan cenderung tidak memengaruhi dan merusak sel sehat. Beberapa obat yang biasa digunakan dalam terapi target untuk leukemia meliputi:

  • Antibodi monoklonal, seperti inotuzumab, gemtuzumab, rituximab, ofatumumab, obinatuzumab, atau alemtuzumab.
  • Inhibitor tirosin kinase seperti imatinib, dasatinib, nilotinib, ponatinib, ruxolitinib, fedratinib, gilteritinib, midostaurin, ivositinib, ibrutinib, atau venetoclax.

Pengobatan terapeutik yang ditargetkan umumnya diberikan kepada pasien dengan tipe leukemia ALL, CLL, CML, dan leukemia sel berbulu. Pada SEMUA pasien, obat terapi inhibitor tirosin kinase yang ditargetkan biasanya diberikan bersamaan dengan kemoterapi, sedangkan pasien CML dapat menjadi pengobatan lini pertama.

Sedangkan pada penderita CLL, terapi terarah biasanya diberikan kepada penderita leukemia yang sudah berkembang dan bila sel kankernya kembali (kambuh), dan dapat diberikan bersamaan dengan kemoterapi. Namun, jenis pengobatan ini juga dapat diberikan saat pasien tidak lagi merespons pengobatan kemoterapi.

Adapun pasien leukemia sel berbulu, obat terapi target yang paling sering diberikan, rituximab. Obat ini dapat diberikan bila kemoterapi tidak dapat mengontrol leukemia atau leukemia kembali setelah kemoterapi dilakukan.

5. Transplantasi sel induk atau sumsum tulang

Cara mengobati dan mengobati leukemia lainnya yaitu transplantasi sel induk atau sel induk atau sumsum tulang. Jenis pengobatan ini umumnya dilakukan setelah kemoterapi atau radioterapi.

Prosedur transplantasi dilakukan dengan mengganti sel induk pembentuk kanker darah (yang telah mati akibat kemoterapi / radioterapi) dengan sel baru yang sehat. Sel-sel sehat ini dapat diambil dari tubuh Anda sebelum kemoterapi dan radiasi dilakukan atau dari darah donor atau sumsum tulang.

Sel sehat ini kemudian bisa berkembang menjadi sumsum tulang dan sel darah baru yang dibutuhkan tubuh.

Transplantasi sel punca sumsum tulang dapat dilakukan pada pasien dengan leukemia ALL dan AML pada fase postemisi. Sedangkan untuk penderita CML leukemia, pengobatan ini jarang diberikan.

6. Pengobatan lainnya

Terlepas dari jenis perawatan umum di atas, perawatan medis lainnya dimungkinkan untuk pasien leukemia. Salah satunya yang sering dilakukan yaitu operasi pengangkatan limpa.

Ini umumnya dilakukan ketika limpa membesar karena sel kanker leukemia dan menyebabkan rasa sakit, dan kemoterapi atau radioterapi tidak dapat mengecilkannya. Namun, tidak semua pasien akan menjalani ini. Selalu konsultasikan dengan dokter Anda untuk jenis perawatan yang tepat untuk Anda.

Postingan Aneka Jenis Obat dan Obat untuk Mengatasi Leukemia muncul pertama kali di Hello Sehat.

Scroll to top