Rasa

Cara Mudah Mengatasi Rasa Takut dan Cemas Menjelang Operasi

Banyak orang yang merasa cemas dan takut saat harus menjalani operasi. Kecemasan dan ketakutan adalah reaksi yang normal. Namun, kecemasan yang berlebihan justru bisa membuat kondisi kesehatan Anda semakin parah sebelum menjalani operasi. Simak berbagai cara mudah untuk mengatasi kecemasan sebelum operasi.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kecemasan sebelum operasi?

Sebenarnya tidak ada cara pasti untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan menjelang operasi. Namun, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi kecemasan.

1. Kumpulkan informasi sebanyak mungkin

Agar tidak merasa terlalu cemas dan takut, Anda bisa menggali informasi terkait metode operasi yang dilakukan, mengetahui jenis anestesi yang akan diterapkan, serta risiko yang mungkin timbul selama operasi. Ketika Anda tahu pasti apa yang akan dilakukan dokter Anda saat operasi berlangsung, rasa cemas Anda akan berkurang.

2. Bicaralah dengan dokter yang merawat Anda

Anda dapat memberi tahu dokter yang merawat Anda tentang kecemasan dan ketakutan yang Anda rasakan. Bicarakan tentang apa yang membuat Anda cemas dan takut. Dengan begitu, dokter akan memberikan gambaran, prosedur pembedahan apa yang akan dilakukan dan kemungkinan hasil pembedahan yang akan Anda dapatkan.

Jika kecemasan disebabkan oleh pembedahan maka menjelaskan prosedur tidak akan memberikan kelegaan. Dalam hal ini, jika memang pasien mengalami stres berat, dokter akan memberinya obat penenang. Sedangkan jika Anda atau orang terdekat Anda pernah mengalami pengalaman buruk terkait operasi, maka tanyakan kepada dokter yang merawat Anda untuk menjelaskan kembali dan memastikan apakah ini akan memiliki akhir yang sama atau tidak.

3. Lakukan hal-hal yang membuat Anda rileks

Anda dapat melakukan apa saja yang Anda sukai untuk mengatasi kecemasan dan kecemasan yang muncul karena semakin mendekati jadwal operasi. Atau lakukan aktivitas yang dapat merelaksasikan tubuh, seperti pijat, akupunktur, atau yoga.

Namun, jika sudah masuk rumah sakit, Anda bisa melakukan hal-hal seperti mendengarkan alat musik, membaca buku favorit, atau mengobrol dengan orang terdekat. Hal-hal tersebut akan membuat Anda lupa sejenak mengenai jadwal operasional yang akan dilakukan dalam waktu dekat.

4. Makan makanan yang sehat

Tanpa kamu sadari, makanan yang kamu makan memiliki efek tersendiri pada mood kamu. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Anda akan merasa jengkel atau lelah jika terlambat makan.

Untuk mengatasi kecemasan sebelum operasi, bicarakan dengan dokter tentang apa yang bisa dan bisa dikonsumsi sebelum masuk ruang operasi. Pasalnya, sebagian besar prosedur pembedahan mengharuskan pasien berpuasa selama beberapa jam.

Jika boleh makan, minimalkan konsumsi gula dan karbohidrat olahan tetapi perbanyak asupan vitamin B karena kekurangan vitamin B (seperti asam folat dan B12) bisa memicu depresi. Beberapa makanan yang dapat mengobati depresi adalah makanan yang kaya omega-3 seperti salmon, tuna, dll.

5. Tidur yang cukup

Kesulitan tidur bisa menjadi gejala kecemasan sebelum operasi. Untuk mengatasinya, coba ubah pola tidur Anda beberapa hari sebelum hari-H. Mulailah mendapatkan tidur yang cukup minimal 7 jam per hari, dan singkirkan hal-hal yang dapat mengganggu kualitas tidur Anda.

6. Berpikirlah positif

Satu hal yang dapat memperburuk kecemasan adalah pikiran negatif tentang kondisi tubuh atau penyakit Anda, atau bisa juga aura negatif dari lingkungan Anda. Oleh karena itu, salah satu cara mengatasi kecemasan sebelum operasi adalah dengan berpikir positif.

Bisakah Anda mengatasi kecemasan sebelum operasi dengan obat penenang?

Penderita yang mengalami kecemasan berlebihan biasanya diberi obat penenang. Memang tidak ada ketentuan khusus obat mana yang dapat mengatasi kecemasan sebelum pembedahan, namun benzodiazepin merupakan obat yang sering digunakan. Benzodiazepin akan membuat pasien rileks dan tidur dengan nyenyak pada malam sebelum hari operasi.

Postingan Cara Mudah Mengatasi Rasa Takut dan Kecemasan Sebelum Operasi muncul pertama kali di Hello Sehat.

Rasa Malas Ternyata Disebabkan Gangguan di Otak. Bagaimana Mengatasinya?

Kemalasan atau yang kini lebih sering disebut dengan "mager" alias malas beraktivitas, merupakan masalah yang kerap dialami banyak orang.

Meski sepele, namun kemalasan bisa menghambat aktivitas dan membuat terbiasa dengan kemalasan jika tidak berusaha melawannya. Biasanya kemalasan muncul karena tidak adanya motivasi yang dapat membuat seseorang bergerak atau melakukan sesuatu.

Namun peneliti mengatakan bahwa kurangnya motivasi ini ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biologis, bukan sekedar sikap dan kebiasaan.

Mengapa kemalasan bisa muncul di otak kita?

Menurut informasi yang diperoleh melalui Live Science, para peneliti melakukan pemindaian dengan Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI) untuk menguji motivasi dan kemalasan.

Hasil memindai menunjukkan bahwa ketika orang memutuskan untuk melakukan sesuatu, korteks pra-motorik otak mereka cenderung menyala sebelum titik lain di otak yang mengontrol gerakan menjadi aktif.

Namun, pada orang malas, korteks pra-motorik ini tidak menyala karena koneksi terputus. Peneliti menduga bahwa koneksi otak yang menghubungkan "keputusan untuk melakukan sesuatu" dengan tindakan nyata kurang efektif pada orang yang malas.

Akibatnya, otak mereka harus berusaha lebih keras untuk mengubah keputusan yang diambil otak menjadi tindakan nyata.

Studi dipublikasikan di jurnal Korteks serebral pada tahun 2012 ditemukan bahwa kadar dopamin di otak juga dapat berdampak pada motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu.

Kadar dopamin akan memiliki efek berbeda di berbagai area otak. Para peneliti menemukan bahwa pekerja keras memiliki dopamin paling banyak di dua area otak yang memainkan peran penting dalam penghargaan dan motivasi; tetapi memiliki kadar dopamin rendah di insula anterior atau regio yang berhubungan dengan penurunan motivasi dan persepsi.

Tips untuk melawan kemalasan

Kemalasan tidak boleh dibiarkan, karena semakin malas Anda, semakin banyak aktivitas yang akan Anda lewatkan. Kemalasan juga bisa membuat produktivitas Anda menurun. Oleh karena itu, berikut beberapa tip untuk memerangi kemalasan:

1. Ingat "mengapa" Anda

Kemalasan biasanya disebabkan oleh kurangnya motivasi untuk melakukan sesuatu. Kehilangan "mengapa" atau alasan Anda melakukan sesuatu dapat membuat Anda tersesat.

Jadi, jika Anda mulai merasa malas, coba tanyakan pada diri sendiri "mengapa" atau "mengapa". Misalnya, "Mengapa saya harus menyelesaikan tugas sekolah atau kuliah saya?", "Mengapa saya harus menyelesaikan tesis saya secepat mungkin?", "Mengapa saya harus mempelajari ini?", "Mengapa saya memilih tempat ini sebagai tempat kerja saya? ", dan lainnya.

2. Tanyakan apa yang salah

Terkadang, kemalasan muncul saat Anda merasa tidak melakukan sesuatu yang Anda sukai. Jika Anda merasa malas, cobalah bertanya pada diri sendiri, "Inikah yang saya inginkan?" atau, "Apa yang sebenarnya ingin saya lakukan?"

Coba tanyakan pada diri sendiri untuk mengetahui apa yang kurang, dan dengarkan hati Anda.

3. "Apa yang harus saya lakukan?"

Jika Anda sudah tahu apa yang salah dan apa "mengapa" Anda, Anda harus tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Lakukan! Jika Anda sudah mengetahui "mengapa" Anda, lakukanlah dengan percaya diri dan antusias. Jika Anda sudah tahu apa yang salah, perbaiki.

Perubahan kecil yang Anda buat akan membuka jalan lain yang dapat membawa perubahan positif dalam hidup Anda; Termasuk perubahan seperti merapikan ruangan, pola makan yang sehat, dan olahraga yang seringkali dapat meningkatkan semangat beraktivitas.

Jadi, bersiaplah dan lakukan perubahan, karena masa depan cerah menanti Anda.

Postingan Perasaan Kemalasan Disebabkan oleh Gangguan di Otak. Bagaimana cara mengatasinya? muncul pertama kali di Hello Sehat.

Cara Mengatasi Rasa Ngilu yang Parah Akibat Gigi Sensitif

Terkadang sebagian orang tidak segera melakukan perawatan atau pengobatan saat mengalami gigi sensitif. Hal ini kemudian menyebabkan rasa sakit semakin parah dan bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Untuk itu, yuk cari tahu cara terbaik mengatasi nyeri yang sudah parah akibat gigi sensitif.

Identifikasi penyebab gigi sensitif Anda

rawat gigi sensitif

Sensitivitas gigi biasanya terjadi karena email gigi telah terkikis atau terkena akar gigi. Selain itu, menurut Mayo Clinic, beberapa hal lain yang bisa menyebabkan gigi sensitif adalah:

  • Rongga
  • Ada retakan di gigi
  • Penyakit gusi

Semua kondisi tersebut di atas membuat Anda merasa pegal saat melakukan aktivitas tertentu yang berhubungan dengan gigi dan mulut. Contohnya seperti saat membersihkan gigi (menyikat atau flossing), makan dan minum.

Ada baiknya, saat gejala nyeri mulai muncul sebaiknya segera dilakukan perawatan agar tidak bertambah parah. Jika tingkat keparahannya terlalu tinggi, Anda perlu mendapatkan bantuan dari dokter untuk perawatan lebih lanjut.

Cara mengatasi nyeri akibat gigi sensitif

penyebab gigi sensitif

Perawatan gigi sensitif bisa dimulai dengan kebiasaan sehari-hari atau pengobatan rumahan tanpa harus ke dokter terlebih dahulu. Menurut American Dental Association, beberapa hal yang dapat Anda lakukan adalah:

Menggunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif (desentizing pasta gigi)

Pasta gigi jenis ini memiliki kandungan khusus yang dapat melindungi gigi sekaligus meredakan nyeri akibat gigi sensitif. Contoh bahan dalam pasta gigi yang memiliki manfaat tersebut adalah natrium fluorida dan kalium nitrat.

Jika ingin mendapatkan manfaat atau sensasi lain dari pasta gigi sensitif, pilih yang mengandung mint. Anda bisa mendapatkan perlindungan sekaligus sensasi segar setelah menggunakan pasta gigi.

Pilih sikat gigi dengan bulu yang lembut dan sikat perlahan

Agar kondisi gigi Anda tidak semakin parah, bulu sikat lembut dan sikat lembut adalah cara yang perlu Anda lakukan jika memiliki gigi sensitif.

Akibat dari menggosok gigi terlalu keras adalah terjadinya resesi gingiva (surutnya gusi) dan erosi email gigi. Seiring waktu, resesi gusi dan hilangnya enamel dapat menyebabkan dentin terbuka, memicu sensitivitas.

Hindari berhenti mengonsumsi makanan dan minuman tertentu

Jika rasa sakit akibat gigi sensitif sudah berada di tingkat yang parah, sebaiknya Anda menguranginya meski mungkin berhenti mengonsumsi jenis makanan berikut ini:

  • Minuman asam seperti minuman berkarbonasi (bersoda), buah jeruk (jeruk, lemon), dan kopi atau teh yang tinggi gula
  • Makanan yang mudah menempel pada gigi, seperti buah kering
  • Alkohol, karena bisa menyebabkan dehidrasi dan mulut kering

Tindakan medis oleh dokter

Di sisi lain, ketika rasa sakitnya tak tertahankan dan perawatan di atas tidak dapat meredakan gejala Anda, kemungkinan besar Anda perlu mendapatkan bantuan dari dokter gigi. Dokter mungkin melakukan tindakan seperti:

  • Aplikasi gel fluoride atau senyawa khusus lainnya untuk melindungi area sensitif pada gigi.
  • Mengisi, mengikat, atau tatahan; merupakan tindakan yang dilakukan berdasarkan penyebab gigi sensitif dengan tujuan untuk memperbaiki kerusakan sehingga sensitivitasnya berkurang.
  • Operasi cangkok gusi (cangkok permen karet) yang dilakukan ketika jaringan gusi telah menghilang dari akar gigi. Ini akan melindungi akar gigi dan mengurangi kepekaan.
  • Saluran akar yang biasanya dilakukan jika sensitivitasnya parah dan kronis dan tidak dapat diobati dengan metode lain.

Untuk mencegah gigi sensitif mengambil tindakan medis yang serius, Anda perlu melakukan langkah pencegahan, yaitu dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut setiap hari.

Bersihkan gigi setidaknya dua kali sehari, terutama sebelum tidur. Itu juga disarankan untuk dilakukan flossing atau kawat gigi. Dengan rutin dan rajin menjaga kebersihan, risiko gangguan kesehatan pada mulut dan gigi, termasuk gigi sensitif, bisa dikurangi.

Postingan Cara Mengatasi Sakit Parah Akibat Gigi Sensitif muncul pertama kali di Hello Sehat.

Rasa Aman Palsu, Alasan Mengapa Banyak Orang Berkerumun Saat Pandemi

Baca semua artikel tentang Coronavirus (COVID-19) di sini.

Meskipun bahaya transmisi COVID-19 masih tinggi, antusiasme masyarakat tidak berkurang untuk menyambut pelonggaran pembatasan sosial skala besar (PSBB). Rupanya, ini terjadi karena banyak orang mengalami rasa aman palsu selama pandemi.

Perasaan keamanan yang keliru dapat memperburuk pandemi karena kesadaran masyarakat terhadap COVID-19 menurun. Bahkan, risiko penularannya masih sama dengan ketika kasus pertama diumumkan. Jadi, dari mana datangnya keamanan palsu itu dan bagaimana Anda mengatasinya?

Apa itu keamanan palsu?

Pemerintah sekarang mulai melonggarkan PSBB di beberapa kota dan bersiap-siap untuk memulai normal baru. Selama masa perubahan ini, kita tidak hanya menghadapi musuh dalam bentuk virus SARS-CoV-2, tetapi juga perasaan keamanan palsurasa aman yang salah).

Pada minggu-minggu pertama pengumuman kasus COVID-19, komunitas tersebut dengan cepat terbawa oleh gelombang kepanikan. Anda mungkin telah menyaksikan orang-orang berbondong-bondong dalam topeng, pembersih tangan, untuk kebutuhan dasar.

Karantina independen mulai berlaku. Sekolah ditutup, pekerja kantor mulai bekerja di rumah, dan tempat-tempat umum ditutup sementara. Rekomendasi kesehatan yang mengandung tindakan pencegahan COVID-19 ada di mana-mana.

Komunitas sekarang akrab dengan jarak fisik, kebiasaan mencuci tangan, dan bahkan membawa peralatan sendiri. Penggunaan masker menjadi semakin umum. Dari pejalan kaki, pedagang, hingga anak-anak, Anda dapat menemukan orang-orang mengenakan topeng di mana-mana.

Namun, ada satu kelemahan topeng yang tidak bisa dipungkiri. Kampanye topeng selama pandemi membuat orang mengalami rasa aman yang salah. Penggunaan masker membuat banyak orang merasa terlindungi dari transmisi COVID-19.

Perbarui Total Distribusi COVID-19
Negara: Indonesia<! – : ->

Data Harian

54.010

Dikonfirmasi

<! –

->

22.936

Lekas ​​sembuh

<! –

->

2,754

Mati

<! –

->

Peta Diseminasi

<! –

->

Inilah sebabnya mengapa Anda melihat orang-orang berkerumun di jalanan, mal-mal menjadi ramai, dan CFD dibanjiri oleh pengunjung. Orang-orang sekarang berani berkumpul karena mereka merasa dilindungi dengan mengenakan topeng.

Bahkan, memakai topeng saja tidak cukup untuk mencegah penyebaran COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga berpartisipasi dalam pembukaan pemungutan suara dalam pedoman penggunaan masker yang diterbitkan pada 5 Juni 2020.

Sebelumnya, WHO tidak merekomendasikan penggunaan masker pada orang awam yang sehat. Masker pada awalnya hanya direkomendasikan untuk orang sakit dan mereka yang melakukan kontak dengan pasien COVID-19.

Sekarang, semua orang disarankan untuk memakai topeng. Orang yang sakit harus tinggal di rumah, sementara orang yang mengalami gejala COVID-19 dapat berkonsultasi dengan dokter dan menjalani perawatan sesuai kebutuhan.

Meskipun topeng memainkan peran penting, WHO masih mengingatkan bahwa pencegahan utama masih ada jarak fisik dan disiplin untuk menjaga kebersihan. Masker adalah langkah yang akan melengkapi semua upaya pencegahan.

Normal Baru Akibat Pandemi COVID-19 dan Efek Psikologisnya

Mengapa keamanan palsu selama pandemi berbahaya?

iritasi karena topeng

Risiko penularan COVID-19 masih sama besarnya dengan beberapa minggu yang lalu. Alih-alih menurun, angka harian positif malah merusak 1.000 kasus. Tanpa menjaga jarak dan disiplin untuk mencuci tangan, Anda masih bisa mendapatkannya bahkan jika Anda mengenakan topeng.

Masih banyak yang tidak memakai topeng dengan benar. Masker kadang-kadang tidak dikenakan sampai mereka menutup hidung atau dikeluarkan dengan sembarangan. Padahal, tindakan ini bisa mengurangi kemanjuran topeng dalam mencegah penularan.

Selain itu, tidak semua masker bekerja dengan kemanjuran yang sama. Ketika menilai kemanjurannya, masker terbaik untuk mencegah COVID-19 adalah masker N95. Namun, topeng ini tidak dapat digunakan setiap hari karena menyebabkan sesak.

Topeng yang digunakan oleh masyarakat umum adalah topeng kain. Jenis masker ini cukup kuat untuk perlindungan sehari-hari, tetapi pengguna harus tahu cara mencuci dan menyimpan masker dengan benar untuk mencegah kontaminasi.

Topeng memang memiliki peran penting dalam perang melawan pandemi COVID-19. Bahkan, para ahli mengatakan bahwa memakai topeng bisa mencegah gelombang kedua COVID-19 yang dikhawatirkan akan muncul dalam beberapa bulan mendatang.

pelindung wajah covid-19

Meski begitu, jangan biarkan ini membuat Anda masuk dalam rasa aman palsu selama pandemi. Pastikan Anda terus melakukan upaya pencegahan untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang terdekat Anda dari risiko penularan.

Cara terbaik untuk menghindari keamanan palsu selama pandemi adalah selalu waspada. Meskipun normal baru sudah terlihat, angka positif dan risiko penularan tidak banyak berubah.

Saat bepergian ke luar rumah, pastikan Anda selalu menjaga jarak dari orang lain. Ikuti cara memakai topeng yang tepat, dan jaga kebersihan diri Anda dengan mencuci tangan dan membersihkan barang-barang yang sering digunakan.

(fungsi () {
window.mc4wp = window.mc4wp || {
pendengar: [],
formulir: {
pada: function (evt, cb) {
window.mc4wp.listeners.push (
{
acara: evt,
panggilan balik: cb
}
);
}
}
}
}) ();

#mc_embed_signup> div {
max-width: 350px; latar belakang: # c9e5ff; batas-radius: 6px; padding: 13px;
}
#mc_embed_signup> div> p {
tinggi garis: 1.17; ukuran font: 24px; warna: # 284a75; font-weight: bold; margin: 0 0 10px 0; spasi huruf: -1.3px;
}
#mc_embed_signup> div> div: nth-of-type (1n) {
max-lebar: 280px; warna: # 284a75; ukuran font: 12px; tinggi garis: 1.67;
}
#mc_embed_signup> div> div: nth-of-type (2n) {
margin: 10px 0px; display: flex; margin-bottom: 5px
}
#mc_embed_signup> div> div: nth-of-type (3n) {
ukuran font: 8px; garis-tinggi: 1.65; margin-top: 10px;
}
#mc_embed_signup> input div[type=”email”] {
ukuran font: 13px; max-width: 240px; fleksibel: 1; padding: 0 12px; min-height: 36px; perbatasan: tidak ada; bayangan kotak: tidak ada; perbatasan: tidak ada; garis besar: tidak ada; batas-radius: 0; min-height: 36px; perbatasan: 1px solid #fff; border-right: tidak ada; batas-kanan-atas-jari-jari: 0; batas-bawah-kanan-jari-jari: 0; border-top-left-radius: 8px; batas-bawah-kiri-jari-jari: 8px;
}
#mc_embed_signup> input div[type=”submit”] {
ukuran font: 11px; spasi huruf: normal; padding: 12px 20px; font-berat: 600; penampilan: tidak ada; garis besar: tidak ada; warna latar: # 284a75; warna putih; bayangan kotak: tidak ada; perbatasan: tidak ada; garis besar: tidak ada; batas-radius: 0; min-height: 36px; border-top-right-radius: 8px; batas-bawah-kanan-jari-jari: 8px;
}
.category-templat-kategori – covid-19-php #mc_embed_signup .mc_signup_title,
.category-templat-kategori – covid-19-php #mc_embed_signup .mc_signup_description,
.category-templat-kategori – covid-19-php #mc_embed_signup .mc_signup_tnc {
display: tidak ada;
}
.category-templat-kategori – covid-19-php .mc4wp-response {
ukuran font: 15px;
garis-tinggi: 26px;
spasi huruf: -.07px;
warna: # 284a75;
}
.category-templat-kategori – covid-19-php .myth-busted .mc4wp-response,
.category-template-kategori – covid-19-php .myth-busted #mc_embed_signup> div {
margin: 0 30px;
}
.category-templat-kategori – covid-19-php .mc4wp-form {
margin-bottom: 20px;
}
.category-templat-kategori – covid-19-php #mc_embed_signup> div> .field-kirim,
.category-templat-kategori – covid-19-php #mc_embed_signup> div {
max-width: unset;
padding: 0px;
}

.category-templat-kategori – covid-19-php #mc_embed_signup> input div[type=”email”] {
-ms-flex-positive: 1;
flex-grow: 1;
border-top-left-radius: 8px;
batas-bawah-kiri-jari-jari: 8px;
batas-kanan-atas-jari-jari: 0;
batas-bawah-kanan-jari-jari: 0;
padding: 6px 23px 8px;
perbatasan: tidak ada;
lebar maks: 500px;
}

.category-templat-kategori – covid-19-php #mc_embed_signup> input div[type=”submit”] {
perbatasan: tidak ada;
batas-radius: 0;
border-top-right-radius: 0px;
batas-bawah-kanan-jari-jari: 0px;
latar belakang: # 284a75;
bayangan kotak: tidak ada;
warna: #fff;
border-top-right-radius: 8px;
batas-bawah-kanan-jari-jari: 8px;
ukuran font: 15px;
font-berat: 700;
text-shadow: tidak ada;
padding: 5px 30px;
}

label form.mc4wp-form {
display: tidak ada;
}

Bantu dokter dan tenaga medis lainnya untuk mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan menyumbang melalui tautan berikut.

Postingan Rasa Aman Palsu, Alasan Mengapa Banyak Orang Ramai Ketika Pandemi muncul pertama kali di Hello Sehat.

Berbuat Baik Kepada Sesama (Altruisme) Ternyata Mampu Meringankan Rasa Sakit

Berbuat baik kepada orang lain bermanfaat bagi orang lain dan diri Anda sendiri. Selain meringankan beban orang yang ditolong, berbuat baik sebenarnya bisa mengurangi rasa sakit.

Mengapa fenomena ini terjadi?

Berbuat baik kepada orang lain ternyata mengurangi rasa sakit

membantu situasi darurat

Berbuat baik kepada orang lain adalah bahasa lain dari altruisme. Menurut Stanford Encyclopedia of PhilosophyAltruisme adalah tindakan untuk membantu orang lain menghindari bahaya.

Misalnya, Anda mengendarai mobil dengan sangat hati-hati di zona sekolah untuk memastikan tidak ada yang terluka. Kehati-hatian seperti itu muncul karena dimotivasi oleh orang lain dan ingin membuat Anda lebih baik.

Intinya, perilaku altruisme muncul karena Anda benar-benar peduli pada orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Setelah diselidiki, perilaku bersikap baik kepada orang lain ini bisa mengurangi rasa sakit.

Menurut penelitian dari Prosiding Akademi Sains Nasional, tindakan baik terhadap orang lain dapat memicu pelepasan hormon baik. Misalnya, dopamin, oksitosin, dan hormon yang membuat tubuh Anda lebih baik.

Penelitian ini dibagi menjadi tiga percobaan. Dalam percobaan pertama, para peneliti meminta peserta untuk secara sukarela menyumbangkan darah mereka setelah bencana gempa bumi terjadi.

Ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh rasa sakit pada jarum suntik. Hasilnya, hampir semua sukarelawan setelah gempa melaporkan bahwa rasa sakitnya jauh lebih sedikit daripada kelompok lain.

yang harus diketahui sebelum melakukan pemeriksaan MRI

Berbagai rangkaian percobaan dilakukan dan ternyata menunjukkan hasil yang sama. Bahkan, pada percobaan terakhir, sukarelawan menyumbangkan uang untuk membantu anak yatim

Selanjutnya, setiap sukarelawan menjalani pemindaian MRI sambil diberi kejutan listrik. Hasilnya, partisipan yang menyumbang ternyata kurang menunjukkan respons otak terhadap kejutan listrik dibandingkan mereka yang tidak menyumbang.

Bahkan, ketika para peserta tahu bahwa kontribusi mereka telah membantu, otak mereka kurang menanggapi goncangan itu. Artinya, membantu orang lain kemungkinan besar mengurangi rasa sakit di tubuh.

Alasan mengapa rasa sakit berkurang setelah berbuat baik

pertolongan pertama pada asma

Berbuat baik kepada orang lain secara ilmiah mungkin bisa mengurangi rasa sakit. Ini karena perilaku membantu orang lain termasuk dalam sasaran dalam kehidupan seseorang.

Karena itu, ketika membantu orang lain ternyata memicu pelepasan hormon bahagia, seperti hormon oksitosin.

Padahal, seperti dilansir laman Psychology Today, semakin tinggi hormon oksitosin dalam tubuh, semakin besar keinginan seseorang untuk membantu orang lain.

Selain itu, ketika hormon oksitosin meningkat, ternyata kondisi ini juga meningkatkan bagian hormon lainnya, seperti serotonin, dopamin, dan endorfin.

Sebagai contoh, endorfin dikenal sebagai obat penghilang rasa sakit. Ini mungkin karena endorfin terdiri dari sekelompok besar peptida.

Hormon ini diproduksi oleh sistem saraf pusat dan kelenjar pituitari yang bekerja pada reseptor di otak Anda. Jadi, ketika endorfin dilepaskan, rasa sakitnya berkurang, tetapi meningkatkan perasaan senang dan nyaman.

Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan, apakah perilaku altruisme memang melepaskan hormon yang bisa mengurangi rasa sakit.

Alih-alih menganggap perilaku altruistik adalah beban karena Anda ingin selalu membuat orang lain bahagia, cobalah untuk melihat sisi positifnya. Berbuat baik kepada orang lain ternyata memiliki efek positif pada tubuh Anda sendiri, yaitu mengurangi rasa sakit.

Posting Doing Good To Others (Altruism) Ternyata Mampu Meredakan Rasa Sakit muncul pertama kali di Hello Sehat.

Scroll to top